Syair Kehancuran

Syair kehancuran…

Memang cengeng karena tak pernah sanggup menahan luapan air mata yang terus menerus diproduksi oleh kelenjar lacrimale.
Setiap kata-kata itu terngiang, tumpah ruahlah air mata, maka akan kusandang lagi predikat cengeng yang hampir tak pernah nampak di permukaan.
“tidakkah ia bersyukur atas hadirnya aku dan sosok lelaki itu dalam hidupnya?”
“tidakkah ia merasa cukup telah memiliki aku & sosok lelaki itu sepenuhnya tanpa batas?”
“tidakkah ia tahu kalau aku begitu tersakiti akibat perbuatannya?”
“tidakkah ia sadar dan melihat dengan nyata bahwa takkan pernah ada dua sosok mungil yang ia sebut sebagai lentera hidupnya, jika ia tak pernah bertemu dengan lelaki yang ternyata amat ia benci?”

“tidakkah sebentar lagi segala yang telah kuusahakan untuk menegakkan dinding-dinding rapuh akan sia-sia?”
“tak dapatkah KAU ubah takdir ini, walau mungkin telah tertulis dalam ketetapanMu?”

Maka aku akan terus menjadi gadis rapuh yang sedang menunggu kehancuran yang telah nampak jelas di kelopak mata…

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 406 other followers

%d bloggers like this: